Sektor Komponen Otomotif Lokal Dirundung Kerugian
Mega Otomotif – Industri komponen otomotif nasional tengah menghadapi masa sulit. Menurut laporan Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), sejumlah perusahaan mencatat kerugian dengan kisaran 3 hingga 23 persen. Kondisi ini dipicu oleh melemahnya pasar kendaraan sekaligus derasnya arus impor mobil dan truk dari China.
Pelemahan Pasar Kendaraan yang Berkepanjangan
Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM, menegaskan bahwa penurunan pasar tidak hanya terjadi karena masuknya mobil listrik impor. Tren pelemahan ini telah berlangsung sejak 2023, ketika penjualan kendaraan terus menurun. Selain mobil listrik, impor truk dari China juga memperburuk situasi karena memengaruhi rantai pasok komponen lokal.
Kerugian Bervariasi di Antara Perusahaan
Laporan dari anggota GIAMM memperlihatkan adanya variasi kerugian di industri. Beberapa perusahaan hanya merasakan dampak kecil, sementara yang lain mengalami penurunan bisnis hingga lebih dari seperlima kapasitasnya. Rachmat menyebutkan kerugian berada di kisaran 3–23 persen, meski angka total belum dihitung secara keseluruhan.
Data Gaikindo Menunjukkan Penurunan Penjualan
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) turut mengonfirmasi tren lesunya pasar otomotif. Dari Januari hingga Juli 2025, penjualan mobil dari pabrik ke dealer hanya mencapai 435.390 unit, turun 10,1 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Penjualan ritel pun anjlok 10,8 persen, sehingga otomatis menurunkan permintaan komponen lokal.
Banjir Impor Mobil dan Truk dari China
Selain pelemahan permintaan domestik, derasnya impor kendaraan utuh (CBU) dari China semakin menekan industri. Sepanjang tujuh bulan pertama 2025, impor mobil listrik dari negeri tirai bambu mencapai 76.755 unit, naik lebih dari 50 persen dibanding tahun lalu. Masuknya truk listrik dan truk konvensional juga memperburuk tekanan terhadap produsen komponen lokal.
Dampak Langsung bagi Industri Komponen Lokal
Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis. Penurunan penjualan kendaraan mengurangi permintaan komponen, sementara serbuan produk impor membuat perusahaan kehilangan pangsa pasar. Akibatnya, kapasitas produksi berkurang, peluang kerja terancam, dan ketahanan industri dalam jangka panjang diragukan.
Harapan Dukungan dari Pemerintah
Di tengah situasi sulit, pelaku industri menaruh harapan besar pada kebijakan pemerintah. Rachmat menyebutkan bahwa stimulus sudah pernah dijanjikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Namun, pelaku usaha menilai kebijakan tambahan yang lebih protektif masih diperlukan agar komponen lokal tetap bertahan.
Perlunya Kebijakan yang Lebih Protektif
GIAMM menekankan perlunya strategi yang lebih konkret dari pemerintah. Tanpa regulasi yang memberi ruang lebih besar bagi produk lokal, industri komponen dikhawatirkan akan terus merosot. Dukungan dalam bentuk insentif fiskal, proteksi terhadap impor, dan dorongan investasi domestik dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.