Ferrari 849 Testarossa, Senyap Saat Santai dan Buas Ketika Berakselerasi
Mega Otomotif – Ferrari 849 Testarossa menawarkan daya tarik yang melampaui angka tenaga. Sebagai penerus SF90 Stradale, mobil ini mempertemukan nama bersejarah dengan teknologi plug-in hybrid modern. Bagi penggemar Ferrari, kembalinya nama Testarossa tentu membangkitkan kenangan terhadap salah satu model ikonis merek tersebut. Namun, pendekatannya kini berbeda. Mesin bensin tidak bekerja sendirian karena sistem penggeraknya mendapat dukungan motor listrik. Perpaduan ini menghadirkan dua suasana berkendara dalam satu kendaraan. Mobil dapat bergerak senyap ketika memakai tenaga listrik, kemudian menunjukkan karakter agresif saat mesin V8 mengambil peran. Justru kemampuan beradaptasi tersebut menjadi bagian paling menarik. Ferrari tampaknya ingin mempertahankan sensasi emosional sebuah supercar, sekaligus memberikan fleksibilitas yang lebih relevan untuk penggunaan masa kini.
Desain Agresif dengan Tujuan Aerodinamika
Sekilas, bentuk bodinya langsung menegaskan bahwa Ferrari ini dirancang untuk performa tinggi. Namun, lekukan tajam dan saluran udara tidak hadir sekadar sebagai pemanis. Bagian samping memiliki bentuk tiga dimensi yang membantu mengarahkan udara menuju intercooler. Sementara itu, wajah depannya menampilkan garis horizontal yang menghubungkan kedua lampu utama. Inspirasi prototipe balap Ferrari era 1970-an, terutama 512 S, memberi identitas tersendiri pada siluetnya. Di belakang, diffuser besar dan spoiler aktif melengkapi pendekatan aerodinamika tersebut. Menariknya, desain seperti ini memiliki dua tugas sekaligus: membangun kesan visual dan mendukung kebutuhan teknis. Karena itu, penampilannya lebih mudah dipahami ketika dilihat sebagai hasil pengaturan aliran udara, pendinginan, serta kebutuhan kestabilan mobil.
Kabin Menempatkan Pengemudi sebagai Pusat Perhatian
Masuk ke interior, fokus desain beralih dari aliran udara menuju kemudahan mengendalikan kendaraan. Dasbor horizontal membentuk kokpit yang berorientasi pada pengemudi, sementara layar penumpang memberikan ruang interaksi tersendiri. Kontrol utama ditempatkan agar mudah dijangkau ketika berkendara. Selain itu, tersedia pilihan kursi balap berbahan serat karbon untuk memberikan dukungan lateral saat mobil bermanuver. Meski memiliki orientasi performa, kebutuhan konektivitas tetap mendapat tempat melalui Apple CarPlay, Android Auto, dan MyFerrari Connect. Kombinasi tersebut memperlihatkan bahwa kabin supercar modern harus melayani lebih dari satu kebutuhan. Pengemudi membutuhkan posisi duduk yang mendukung kendali, tetapi juga menginginkan akses praktis terhadap fungsi sehari-hari. Dengan demikian, kenyamanan penggunaan tidak hanya ditentukan oleh kualitas material atau tampilan layar.
Mode Hybrid Menghadirkan Sisi yang Lebih Tenang
Dalam pengujian di kawasan PIK 2 yang menjadi bahan ulasan ini, karakter tenang mobil terlihat ketika sistem hybrid memanfaatkan tenaga listrik. Suasana kabin terasa senyap sebelum mesin bensin mulai bekerja mengikuti kebutuhan tenaga. Perubahan tersebut memberi gambaran menarik tentang cara sebuah supercar modern menghadapi perjalanan santai. Tidak setiap perpindahan tempat membutuhkan raungan mesin atau respons akselerasi maksimal. Namun, mode Hybrid perlu dibedakan dari eDrive. Hybrid mengatur kerja mesin bensin dan motor listrik sesuai kebutuhan, sehingga mesin dapat menyala selama perjalanan. Sebaliknya, eDrive ditujukan untuk berkendara menggunakan tenaga listrik. Perbedaan ini penting agar kemampuan melaju senyap tidak disalahartikan sebagai kondisi yang selalu tersedia sepanjang penggunaan mode hybrid.
Baca Juga : MG S5 EV dan ZS Hybrid+ Jadi Motor Penjualan MG Indonesia
Mesin V8 Mengubah Suasana Berkendara
Ketika kebutuhan akselerasi meningkat, mesin V8 twin-turbo menghadirkan suasana yang berbeda. Dalam catatan pengujian tersebut, raungan dari area tengah-belakang mobil terdengar semakin jelas saat mesin mengambil peran lebih besar. Suara aliran udara sistem turbo ikut memperkaya pengalaman itu ketika putaran meningkat. Di sinilah karakter emosional Ferrari kembali terasa menonjol. Tenaga listrik memberikan ketenangan, sedangkan mesin bensin menghadirkan lapisan suara dan respons yang lebih dramatis. Meski demikian, daya tariknya bukan sekadar perubahan volume suara. Perpaduan kedua sumber tenaga memungkinkan mobil menyesuaikan respons terhadap kebutuhan pengemudi. Menurut saya, karakter ganda ini justru memperluas pengalaman memiliki supercar. Pengemudi tidak harus menikmati seluruh perjalanan dalam suasana yang sama intensnya.
Pengaturan Suspensi Membantu Menghadapi Jalan Bergelombang
Performa besar akan sulit dinikmati apabila kendaraan terasa melelahkan dalam setiap perjalanan. Karena itu, kemampuan menyesuaikan karakter suspensi menjadi bagian penting dari pengalaman berkendara. Pada pengujian melewati jalan konblok bergelombang di PIK 2, pengaturan yang lebih lembut membantu meredam guncangan. Catatan tersebut menunjukkan adanya ruang kompromi antara orientasi performa dan kebutuhan jalan umum. Namun, kenyamanan pada satu permukaan tidak otomatis menggambarkan kemampuan mobil menghadapi seluruh kondisi jalan. Kecepatan, kondisi ban, serta bentuk gelombang permukaan turut memengaruhi hasilnya. Meski begitu, fleksibilitas pengaturan tetap memberi keuntungan praktis. Pengemudi dapat memilih karakter yang lebih sesuai dengan situasi, kemudian menggunakan setelan lebih tegas ketika membutuhkan dukungan pengendalian yang berbeda.
Tenaga Gabungan Mencapai 1.050 cv
Ferrari 849 Testarossa memadukan mesin V8 twin-turbo berkapasitas 3.990 cc dengan tiga motor listrik. Mesin bensinnya menghasilkan 830 cv pada 7.500 rpm dan torsi maksimum 842 Nm. Bersama sistem listrik, tenaga gabungannya mencapai 1.050 cv. Penyaluran tenaga menggunakan transmisi dual-clutch delapan percepatan. Ferrari mengeklaim akselerasi 0–100 km/jam membutuhkan waktu kurang dari 2,3 detik, sedangkan kecepatan maksimumnya melampaui 330 km/jam. Sementara itu, jangkauan maksimum dalam mode eDrive mencapai 25 kilometer. Angka tersebut memperlihatkan prioritas sistem hybridnya: mendukung performa sekaligus menyediakan kemampuan berkendara listrik untuk jarak terbatas. Namun, capaian aktual tetap dipengaruhi kondisi penggunaan. Klaim akselerasi dan kecepatan puncak juga perlu dipahami sebagai kemampuan teknis dalam kondisi pengujian yang sesuai.
Daya Tariknya Terletak pada Fleksibilitas Karakter
Pada akhirnya, keistimewaan mobil ini muncul dari kemampuannya menggabungkan pengalaman yang berbeda. Dalam satu perjalanan, pengemudi dapat menikmati suasana tenang, respons tenaga besar, dan karakter suara V8 yang kuat. Kemampuan listriknya memang tidak ditujukan untuk menggantikan kendaraan listrik berjangkauan panjang. Namun, fitur tersebut memberi pilihan tambahan ketika perjalanan hanya membutuhkan perpindahan singkat. Di sisi lain, pengaturan suspensi menunjukkan upaya membuat performa tinggi tetap dapat dinikmati di luar lintasan. Bagi saya, inilah arah menarik dari supercar hybrid: teknologi memperluas cara menikmati mobil tanpa menghilangkan identitas utamanya. Ferrari 849 Testarossa tetap menawarkan drama, tetapi juga memberikan kesempatan kepada pengemudi untuk menentukan kapan drama itu ingin dihadirkan.